Ulangan 32:11 Laksana rajawali menggoyangbangkitkan isi sarangnya,melayang-layang diatas anaknya,mengembangkan sayapnya,menampung seekor,dan mendukungnya diatas kepaknya,

Dalam mendidik anak hendaknya kita seperti rajawali
Ketika sampai waktunya untuk mandiri,dianggap bisa terbang sendiri,burung rajawali tidak bertanya kepada anak-anaknya :”Siapkah engkau nak?” atau dengan lemah lembut membujuk anaknya untuk belajar terbang.Tak ada kata dan masa “siap” bagi seorang anak,tak ada yang sukarela “out of the box)…percayalah…aku banyak pengetahuan dan bukti mengenai hal ini.
Puji Tuhan,walau Indra dan Kiki selalu mengomel-ngomel pada saat “dipaksa” sang babe “out of their box”,sekarang mereka dah punya “box” masing-masing yang siap mereka kembangkan sendiri.Paling tidak mereka bisa bebas keluar masuk “box”nya,tidak terkekang didalamnya. ^_^
Kembali ke topik…..Tapi ia(rajawali) menggoyangbangkitkan(membalik) sarangnya,”menjatuhkan” anak-anaknya,dalam keadaan jatuh melayang dari tebing tinggi(tempat rajawali bersarang),anak-anak rajawali mau tidak mau terpaksa mengepakkan sayapnya,supaya mereka tidak mati konyol diatas bebatuan yang menyambutnya di bawah.
Kalaupun si anak belum bisa melayang,mengepakkan sayapnya,rajawali menopang anaknya di kepak sayapnya,tidak membiarkan anaknya mati konyol meluncur jatuh dibebatuan.Mengulang kembali prosesnya,sampai anaknya mahir terbang.

Anak hendaknya dididik dengan disiplin dan kasih sayang,keduanya mesti berimbang berdampingan (Amsal 23:13,14 Do not withhold discipline from a child;if you punish him with the rod,he will not die.Punish him with the rod and save his soul from death)

Pdt Christian memberi contoh kasus: Ada seorang ibu yang masa kecilnya penuh dengan kepahitan,dia berjanji bahwa anaknya tidak akan mengalami kepahitan seperti yang ia alami.
Keinginan anaknya selalu di nomor satukan,selalu diusahakan untuk dipenuhi,selalu dikabulkan walaupun dengan keringat darah.Apa yang terjadi? Dia bunuh anaknya dipangkuannya,ditembak dengan pistol,karena tidak tega melihat anaknya yang sakaw,sedang dia tidak mampu lagi menyediakan dananya untuk memuaskan sakaw anaknya.Sepintas kita bisa saja memberi nilai “TOLOL” pada sang ibu.Tapi cinta pada lawan jenis aja bisa buta,apalagi cinta seorang ibu yang terkekang oleh nazar kepahitan masa kecilnya.

Kasus sebaliknya : Ada seorang penjahat yang di vonis hukuman mati atas kesalahan nya yang berat,dia diberi permintaan terakhir.Apa yang di mau i nya? menete di buah dada ibunya.Ibunya yang sudah tua yang selalu setia mengikuti sidang anaknya berdiri,lalu mereka memojok.
Si ibu menyingkap bajunya agar si anak bisa menete di buah dadanya.Dalam sekejap terdengar lolongan panjang kesakitan si ibu,orang-orang melihat,di mulut anaknya ada darah,darah dari buah dada ibunya yang dia gigit dengan kencang.
Seluruh pengunjung sidang marah,termasuk hakim,jaksa dan pembelanya.”Anak kurang ajar!!” kata mereka,”Kenapa engkau lakukan perbuatan sekeji itu pada ibumu,padahal beliau dengan setia mendampingi engkau?”
Si penjahat ulung menjawab dengan enteng:”Supaya ia(si ibu) selalu teringat selama hidupnya ,bahwa buah dadanya telah menyusui seorang penjahat,seorang anak yang tidak di didiknya dengan benar,sehingga aku salah arah,menjadi seorang penjahat seperti sekarang ini”
Aku terkesima,bergidik ketika mendengarnya.

Jadi sebagai seorang perempuan,tidak ringan tanggungjawab yang tersandang di pundak para perempuan.Sebagai penolong suami dan pendidik yang mengarahkan kearah yang benar para generasi muda,bakal pemimpin-pemimpin masa depan.
Seperti kata bijak…”Masa depan bangsa dan negara ada ditangan para ibu”

So,para ibu…berbanggalah! tetapi tetap waspada dengan “permata-permata” kita.Jangan salah didik.Sayangi mereka,disiplinkan mereka.(Amsal 29:15 Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat,tetapi anak yang dibiarkan, mempermalukan ibunya)

Amsal 29:17 Didiklah anakmu,maka ia akan memberikan ketentraman kepadamu,dan mendatangkan sukacita kepadamu.

Tuhan sertai kita semua….Haleluya.