Dari mimbar terdengar:
“Seorang pemenang sejati adalah orang yang bisa/mampu mengalahkan musuh dalam dirinya sendiri, dapat menguasai sikap dan emosi.
Ubahlah diri kita sendiri, mana bisa kita mengubah orang lain?”.
Dari mimbar yang sama, mulut yang sama, memberi kesaksian:”Saya punya kamar konseling,suatu hari datang seorang yang mau konseling, begitu dia duduk,dia mulai berkeluh kesah, panjanggg lebarrr, semua kesalahan orang lain yang dibeberkannya, kesalahan pasangannya. Setelah lama ia curhat, bicara saya memang agak nyelekit, saya omong aja: Kalau saya jadi kamu,(dapat masalah seperti ini), yang bodoh adalah saya!”.
Dia(yang konseling) langsung gebrak meja, banting pintu dengan keras, turun tangga dan ketemu seseorang lalu dengan marah bilang:”Saya tidak mau ngomong lagi sama dia!”
Dia(pembicara)terus bercerita:”Lain hari , seseorang nanya kepada saya: Pak,kok dinegara A,ada *disamarkan kasusnya* ya? saya jawab aja: Lu aja yang bodoh! makanya hati-hati! jangan salah pilih.
Bangga?
Saya yang dengar:???? (takut euyyy…=_=)
Dalam hati saya:Seorang yang dipercaya sebagai konselor(punya kamar khusus),yang sadar bahwa dirinya suka ngomong nyelekit, kok tidak bisa menjadi pemenang sejati? yang bisa menguasai/mengubah diri dan emosinya untuk membantu/menangani orang yang datang padanya(yang pasti bermasalah dan mem “blame” orang lain).
Dalam bayangan saya:Dia bisa berkata dengan bijak dan sabar, sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya sebagai konselor:”Ini daftar kesalahan si A, ini daftar kesalahan pasangan anda, mana daftar kesalahan anda?”(sambil senyum) lalu keluarkan jurus-jurus andalan mendamaikan/mendinginkan,misal…ayo kita buat daftar positif pasangan anda,gimana dia terhadap anak-anak?,terhadap anda selama ini sampai berbuah anak? memberikan firman-firman Tuhan,dan mudah-mudahan berakhir tanpa gebrakan meja dan hempasan pintu. Itu baru dia memberi teladan apa yang diberitakannya. (Dia memberitakan bagaimana menjadi pemenang sejati dan dia juga telah melakukannya/memberi teladan).
Ataukah idealisme saya terlalu tinggi? Walahualam(maap kalo salah spelling)

Dari Metro TV,Oprah Show saya melihat:
Sebuah keluarga(ibu korban yang juga mertua pembunuh, 2 anak korban(kakak pembunuh dan istrinya) dan neneknya sedang berhadapan secara teleconfrece dengan pembunuh yang sebentar lagi menjalani eksekusi mati setelah 14 tahun dipenjara.
Pada saat kejadian kedua adik kakak tersebut berumur 9 dan 3 tahun.
Dari sana saya dapatkan kata-kata bijak:
Si anak (cewek ,dulu berumur 9th) berkata kepada si pembunuh:I hurt but I don’t hate you ; God give a life and only HIM can take it.(Dia tidak menginginkan pembunuh bapak ibunya di hukum mati,karena menurut dia sesuai didikan neneknya selama ini, itu tidak akan menjadikan bapak ibunya hidup kembali, hanya akan menambah satu lagi kematian)
Si nenek yang membesarkan anak-anak korban berkata: I can’t judge you but God
Si ipar berkata: I hate what you did but I don’t hate you(seperti yang pendeta Dede pernah bilang:”Kalaupun kita membenci,bencilah perbuatannya ,bukan orangnya! Orang bisa berubah, mari kita doakan.

Yang mengharukan, menyaksikan si anak cowok yang dulu berusia 3 tahun menangis tersedu-sedu saat si paman(pembunuh) bilang:Kau ganteng seperti ibumu, dulu aku dan bapakmu sering mengajak kau naik motor dan memancing, dan kau sangat senang dengan itu semua, Bapak dan ibumu sayang sekali dengan kalian. Kalian pasti dididik baik dan punya masa depan yang baik.
Benar-benar mengharukan,akupun tertular,ikut menitikan air mata.
Thank you God ,aku diberi pilihan menonton Oprah,”mengasah” perasaan dan yang pasti sesuatu yang mengganjal dimataku sejak sore kemarin lenyap terbawa airmata yang menitik…..^_^

Siapa bilang TV tidak lebih baik dari mimbar?