Post Facebook Helen Liauw(sunday school teacher) Yak 4:11-12; Saudara2ku, jgnlah kamu saling memfitnah! Barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya; ia mencela hukum dan menghakiminya: dan jk engkau menghakimi hukum,mk engkau bukanlah penurut hukum,tetapi hakimnya. 12.Hanya ada satu pembuat hukum dan Hakim,yaitu Dia yg berkuasa menyelamatkan dan membinasakan….Tetapi siapakah engkau,sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia ???…(CoPas)

Orang bilang,firmanNya adalah alat untuk mengajar,memberitahu yg salah,dan yang pasti yang selalu kurasakan…firmanNYA itu hidup,selalu tepat bagi kita saat kita perlukan.

Aku sendiri mempunyai pengalaman tentang hal yang di post sdri Helen diatas…

* Saat aku mendengar seseorang berkata-kata sangat “pedes” menurut telingaku kepada orang lain,sebelum aku menghakimi dia jahat,aku bilang sama dia:”Telak sekali kata-katamu,bisa tersinggung orang”
Dia jawab:”Memang pantas dia terima ci,dia dulu lebih “darah dingin” memperlakukan orang lain”….nah lo,giliran aku yang melongo…..
Dia cerita panjangggg dan lebarrr…artinya luass sekali dan dia ijinkan aku kutip ceritanya untuk dijadikan referensi kesaksian,ujung-ujung dari ceritanya….Orang itu memang “normal” menerima perlakuan yang “tidak enak” menurut kita.
Jadi ..kita jangan langsung menghakimi “orang jahat” karena kata-katanya ,padahal orang tersebut (yg menerima perlakuan tsb memang telah sampai waktunya ia menuai “kepahitan” yg dia tabur lamaaa sebelumnya…..

* Saat kita dicalonkan jadi pejabat lalu di “demo” orang-orang dan batal menjadi pejabat….jangan menghakimi orang-orang iri hati dengan posisi kita,intropeksi dirilah! karena seiring waktu kadang bisa atau mungkin akan kita dapati bahwa kita memang belum layak mengemban tugas tsb,daripada di cela orang ,tidak mampu memberi teladan yang baik baik dengan kata-kata maupun perbuatan..kita terhindar dari dosa karena tidak mengemban jabatan dengan benar.Atau bisa juga ..kita stress akan tuntutan tugas dari jabatan yang kita emban.
Jadi…legowolah,pil pahit akan berbuah manis kalau tiba waktunya ^_^

* Saat kita melihat suatu situasi yang kita tangkap sebagai “Orang yang menjilat ludahnya sendiri” Misalnya: Seorang anak yang dengan pongah pergi meninggalkan rumah ortunya dengan alasan kebebasan dan ingin lebih mandiri dan mencari kehidupan yang lebih maju lagi lalu pada suatu hari kembali balik lagi kerumah ortunya.

Mungkin
1.Ia sadar akan kenyataan,tidak ada yang lebih nyaman daripada rumah ortunya
atau
2.Karena tetangganya kasih kabar,bahwa ortunya sakit-sakitan dan kesunyian,ia sadar dan ingin berbakti kepada ortunya

Yang pasti….Bukan perkara yang mudah baginya menghadapi situasi “menjilad kembali yg sudah terlanjur di ludahkan”

Tinggikan toleransi dan simpati kita pada sesama.

Taruhlah hormat kita pada orang-orang yang patut kita hormati.
Hormati dan kasihi diri kita sendiri terlebih dahulu;kalau tidak, bagaimana kita bisa menjalankan hukum kasih kedua…Kasihi sesamamu seperti engkau mengasihi dirimu sendiri? kalau kita tidak hormat dan berujung kasih pada diri sendiri lebih dulu?

Taat dan patuh kita mutlak hanya pada Tuhan kita Sang Pencipta dan Esa,yang tidak memungut “biaya” atas oxygen yang kita hirup untuk tetap “cangkal behinak” dan menikmati hidup di dunia ini.Ilustrasi kotbah Pdt Barnabas sabat siang kemarin:”Bayangkan kalau kita kemana-mana membawa/menggendong tabung oxygen untuk keperluan bernafas kita”
Yang pasti CV Indrapurna akan menambah investasinya membeli tabung-tabung baru ^_^
Damai sejahteraNYA beserta kita semua…….