Ada cerita……

Ada sepasang suami istri,mereka punya seorang anak.
Entah apa yang menjadi latar belakang pertimbangan mereka,anak mereka(satu-satunya) di titipkan dan dibesarkan oleh orang tua suami…sampai berhasil menyelesaikan kesarjanaannya.
Si anak menikah,bahagia,hormat dan sayang kepada kakek neneknya…tetapi tidak sama sekali kepada kedua orangtuanya,walau si anak sering ketemu orangtuanya,tapi suasana pertemuan adalah dingin.
Pekerjaan si suami adalah wiraswasta,bepergian keluar kota,dibantu oleh pembantu(cewek)…..suatu hari tertangkap basah 'bermain api" dengan sang pembantu.
Sang pembantu diberhentikan,perkawinan berlanjut……

Si istri punya ibu yang renta,lumpuh,tanpa daya…..maaf….kalau didudukkan di kursi roda…terlihat seperti mummi….kurus kering , kepala lunglai dengan baju dan celana panjang serta sarung tangan dan kaos kaki membungkus tubuhnya yang tidak dapat duduk tegak lagi.
Yang mengherankan bakti si anak kepada sang ibu FULL….aku benar-benar angkat JEMPOL untuknya.
Si anak bisa menggalang dana dari saudara-saudaranya untuk operasi mata sang ibu,walaupun dokter singapore bilang …"buat apa?" Operasi tetap dilakukan.Apakah membawa kebaikan bagi sang ibu,kita tidak tahu.
Pada saat sang ibu "gawat"(mimpi/ngigau dijemput malaikat)…selain sigap bawa ke dokter dan rumah sakit,dia juga mengadakan ritual keagamaan penyambung nyawa…..
Si anak sering bawa ibunya jalan-jalan keluar kota dengan mobil,alasannya si ibu mau lihat-lihat/keliling kota.
Duduk dibelakang dengan kepala terkulai,apa yang mau dilihat? maaf lagi….
Tiap pagi dibawa jalan pagi dengan kursi roda,ditambah dengan topi pet menutupi kepala dan mukanya yang terkulai.
Setelah selesai,dikasih kekuatan "prana" lalu dilekatkannya di muka sang ibu.
Sementara itu sang pembantu mengerak-gerakkan kaki dan tangan si ibu (seperti terapi)

Mungkinkah dia menerima bakti yang sama dari anaknya(yang di "buang"nya ) seperti yang dia lakukan pada sang ibu?…(hukum tabur tuai?).

Sharing yuk……
Thank you.


sannigunawan.blogspot.com