“Orang Kristen tidak boleh sembahyang (angkat hio didepan peti jenazah atau di altar keluarga),tidak boleh ke kubur,tidak menghormati/durhaka tehadap leluhur”demikian sepenggal kalimat yang sering kita dengar,apalagi di bulan bulan seperti sekarang,bulan ceng beng/bulan arwah,dimana tradisi orang Tionghoa menghormati arwah leluhur dengan sembahyang di kuburan.

Orang Kristen hanya menyembah kepada Allah Yang Esa,Sang Pencipta,tidak pada yang lain.
Allah kita tidak menuntut yang macam-macam kepada umatNYA,turuti 10 perintahNYA dan hidup sesuai dengan firmanNYA.
Bukan bearti orang Kristen tidak berbakti kepada leluhur dan orang tua.
“Hormatilah ayahmu dan ibumu” merupakan perintah ke 5 dari 10 perintah Allah,juga merupakan perintah pertama dari hubungan horizontal sesama manusia.(4 hukum pertama mengatur hubungan vertikal manusia dengan Allah)
Berbaktilah kepada orang tua selagi mereka hidup,saat mereka di panggil “pulang”,doa doa kita kepada Sang Pencipta lebih berharga daripada sembahan semeja…(yang sia-sia/tidak disentuh arwah,kalaupun habis dimakan arwah,kitanya yang mati sia-sia karena jantungan hahahaha yang pasti itu semua perlu biaya besar dan pemborosan).

Sebagai orang kristen,kita tidak dilarang pergi ke kubur pada hari biasa maupun pada bulan cing ming seperti sekarang ini.(akupun baru tau ^_^),tabur bunga atau penerapan kasih kita kepada orang tua atau saudara kita,membantu apa yang bisa kita bantu.
Ayat alkitab mencatat dalam Matius 28 : 1 Setelah hari Sabat lewat,menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu ,pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain,menengok kubur itu.(Pada keluarga yang baru ditinggal orang terkasih,biasanya disebut meniga hari),pergi kekubur subuh-subuh.

Pada saat kerumah duka,bolehkah kita berdiri didepan peti jenazah?
Ada 2 pilihan (kata Pdt Dede)…kita bisa langsung menuju keluarga inti yang kehilangan,salaman ungkapkan duka cita,lalu duduk.
Atau kita berdiri kosong didepan peti,mengenang kebaikan alm,kemudian menunduk hormat pada keluarga(yang hidup) yang berdiri disamping kanan dan kiri peti jenazah.(melakukan etika hidup bersama/bermasyarakat,daripada salaman pada semua,ayo?)

Aku perhatikan dan banyak dipertanyakan orang-orang,pada saat jenazah adikku dibaringkan dirumah duka,antara peti dan meja altarnya miring/tidak sejajar(biasanya sejajar).Itu dilakukan atas saran/anjuran/aturan orang yang menangani alm pada saat di rumah duka Adi jasa Surabaya,tentu dengan suatu alasan(yang bagus bagi keluarga yang ditinggalkan).
Beda orang,beda daerah,beda aturan toh?

Masing-masing agama mempunyai Kitab Suci yang di iman i bukan?yang menjadi pegangan kita dalam menjalani hidup ini.Kenapa tidak mengikuti aturan yang ada,yang tertulis disana?yang kita iman i sebagai umat beragama.Tidak ditambahi dan tidak dikurangi.
Kalau tidak ada aturan,tidak menemukan yang tersurat dan tersirat,suka-suka kita dong,yang nyaman kita laksanakan/jalani,ngapain ikut aturan orang lain yang tidak berkepentingan? yang biasanya menguras banyak biaya?
Jangan sampai juga terjebak pada prosesi (yang dibikin manusia sesuai jaman)sampai menjadi tahap pemujaan/penyembahan. Kasihan bagi yang dipuja/disembah,bisa menimbulkan cemburu dan murka Allah.
Hanya TUHAN yang harus dan pantas kita sembah dan puja bukan?
Bagaimana?