Ketika aku masuk lift suatu bank swasta,mau turun setelah selesai transaksi,didalam sudah ada sepasang suami istri muda.Tanpa sengaja si istri menekan tombol didepannya padahal tombol tersebut adalah tombol khusus untuk membuka pintu lift ().
Suami( dengan kalem tanpa emosi) : “jangan di tekan”
Istri : Kan tutup..eh salah ya…untuk buka(sampai sini sih…peristiwa biasa)
yang tidak biasa dan menganggu ku,si istri meneruskan : “susah juga orang nggak sekolahan”
Nah lho…..kok mau-maunya “menista” diri sendiri,dihadapan orang banyak lagi.
Untung suaminya sabar…cuma senyum di kulum aja menanggapi sang istri (jempol deh untuk si suami).

Ada lagi kasus yang hampir sama yang sering aku temui….ibu-ibu yang menyadari kekurangan/kesalahan yang telah dilakukannya,lalu bicara seperti ini:”Sibungul ni kada mengerti pang”(di Indonesiakan : si bodoh ni tidak mengerti sih…)
Versi QQ dan Indra menanggapi masalah ini : “WAT DA..!!!!”
Kadang tanpa sadar,seseorang “merendahkan” dirinya sendiri.
Tolong deh anak-anak muda…kalo menemukan kasus seperti ini dilakukan oleh kita para ortu… ingatkan kita secara halus untuk tidak mengulanginya lagi….trims.

Aku juga tidak suka dan membenci orang sombong dan angkuh…dan aku punya pengalaman sendiri di sombongi dan diangkuhi orang yang merasa dirinya “lebih” dari aku duluuuuu….
Dan untuk itu,aku pernah duduk berdampingan dengan si sombong tersebut,tanpa bertegur sapa,padahal aku dan dia sama-sama duduk di aula gereja(aneh? biarin….^_^)
Sekarang,ternyata “kelebihan ” yang disombongkannya duluuu itu….membuat dia minder…(karena aku sekarang teman dia *_^)
Dunia terus berputar…kala kita diatas..janganlah merasa pongah, karena tidak ada lagi pencapaian kalo kita dah merasa diatas selain turun kebawah…sedangkan kalo kita merasa di bawah..jangan kuatir.. karena pasti tiba saatnya kita mendaki lagi(asal kita tetap berusaha).

Aku punya prinsip….Orang mau sombong sama kita?…emang kita makan berasnya dia?
Kita pun berusaha untuk tidak merasa sombong dan lebih dari orang lain,karena kita tidak mengasih beras untuk makan mereka….ya nggak?

Balik ke topik…..
“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”(Matius 22 : 39),demikian hukum terutama yang kedua yang diperintahkan Tuhan Allah kita..(yang pertama tentu saja mengasihi DIA Sang Pencipta Alam dan segala isinya).
Nah bagaimana kita bisa mencintai orang lain(menurut ajuran/perintah Tuhan) kalau kita tidak mencintai diri kita sendiri?
Mencintai diri sendiri juga bukan berarti selalu membenarkan pendapat sendiri.
Mari kita belajar ber komunikasi yang baik antar sesama anggota keluarga,teman,tetangga dan sekitar kita(bahkan dengan flora dan fauna….Ini ilmu baru dari tukang jualan pohon di Palangkaraya ^_^)
Bagaimana?