Alkisah,ada seorang anak cowok(kita sebut B) yang dipindah dari tempat kerjanya yang lama(yang sudah lumayan nyaman) ke daerah ,terpisah dengan istri dan kedua orang tuanya,setelah ada “pergesekan” dengan manajer yang baru diangkat.
Kepada sang bunda si anak beralasan,si manager ini judes,sentimen dengan dia.

Waktu terus berlalu,si anak tetap berkerja didaerah,kadang sang istri ikut dia ,tidur di mess perusahaan,kadang si istri tingal di Banjarmasin dengan kedua orang tuanya.Didaerah ia menggaji seorang pesuruh untuk masak dan cuci pakaiannya.

Kemarin,sang bunda cerita denganku bahwa istrinya owner ngomong dengan anaknya “Enak ada kamu juga di Banjarmasin,sekarang tante sakit kepala terus”.
Selanjutnya si bunda bercerita,ponakan si owner (yang sekolah di Singapore dan belum lulus) akan datang meng audit pekerjaan si manager,karena si owner mencurigai si manager “nakalan”.
Dulu … si manager juga mau diberhentikan,tapi karena terikat kontrak,susah! mesti bayar berapa kali lipat gaji.Dan kontrak si manager baru habis Agustus tadi.
“Mestinya yang audit tu si A(auditor ternama di Banjarmasin,jar dia hebat jar”…lanjut sang bunda.
Aku : ” Khan ada anak cowok si owner? (yang juga lulusan luar negeri dan sudah waktunya masuk dunia usaha juga.)
Bunda B :” Mana berani dia dengan si manager tu”
Aku :”??????????”

Entah karena aku terlalu simple berpikir atau apapun itu….
Aku bilang sama sang bunda:”Bodoh sekali si istri owner tu,mau sakit kepala sendiri,pindahkan aja si B(anaknya) ke Banjarmasin,kalau itu memberi rasa nyaman yang artinya membantu dia.
Temukan “kenakalan” si manager(masa susah sih?) Kalau memang si manager melakukannya,dan terbukti, pecat dia! apalagi masa kontraknya sudah habis .Iya nggak sih?

Aku merasa si bunda di “kacangi” si anak……..Rasa “sayang” sang bunda(selalu membetulkan tindakan dan situasi si anak) membuat si anak tetap berada di lembah kehidupan.
Memang tidak mudah memaparkan kebenaran kepada anak kita, buah kasih kita,tapi seperti yang tertulis di alkitab :”Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita ,tetapi dukacita.Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya(Ibrani 12:11)…..Mensupport anak kita untuk mendaki lereng menuju level kehidupan yang lebih tinggi bukan berarti kita harus selalu membenarkan apa yang dilakukannya.
Alkitab pun menulis bahwa Tuhan menghajar dan menyesah orang yang dikasihiNYA,dan kalau kita bebas dari ganjaran,kita adalah bukan anak DIA(Ibrani 12:6-7)

Bagaimana dengan anda?