“Tau lah si A yang punya toko perhiasan yang gede tu? itu adalah keponakanku,orang tuanya dul kere benar”.
“A dari kecil membantu ditoko suamiku.Pulang sekolah tanpa makan langsung ke toko,makan di toko,bantu-bantu ditoko lalu pulang dengan uang jajan”
“Mamanya hemat benar,makan seadanya,uang yang dikumpulkannya dibelikannya emas,bukan perhiasan melainkan emas mentah,10 gram demi 10 gram……….
Ketika A lulus sekolah dan bekerja di kota Surabaya sekian lama,ketika mamanya sudah merasa “modal” nya cukup,maka dipanggillah A kembali lagi ke kampung,mulai buka toko perhiasan di kios kecil di pasar tradisional…..Sekarang A sudah jadi “bos”,senang mama papanya sekarang,
anakku maka…………..gagal…..*sigh* Curhat seorang ibu padaku.

Satu lagi …. fakta,bahwa antara mencurahi anak kasih sayang dan mejebloskannya ke jurang kegagalan hanya setipis kulit bawang.

Bagaimanapun kita menyayangi anak kita,disiplin harus tetap di terapkan padanya,seperti yang tertulis di nas alkitab,

Amsal 29;15 Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat,tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya.

Amsal 29;17 Didiklah anakmu,maka ia akan memberikan ketentraman kepadamu,dan mendatangkan sukacita kepadamu

Ibrani 12;11 Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita,tetapi dukacita.Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.

Tidak gampang memang jadi orangtua yang bertanggungjawab,bagaimana?