A couple of months ago, we were having lunch in the pantry at the office (well. ex-office) and the topic of marriage came up. What’s the most common excuse? The old i’m-not-ready-financially-yet.
How exactly do you measure “ready”? If it’s enough for me, it may not be enough for you. If it’s enough for you, it may not be enough for me.


Kalimat diatas adalah penggalan dari isi blog salah satu “anak” cyber ku….nggak papa ya “nak”….iie ambil untuk mendukung blog iie…thank u.

“Kegamangan berkomitmen” bukan hanya dialami oleh cowok,tapi juga oleh cewek.
“Ready” dan “Enough” menjadi “rambu” masalah yang harus dipecahkan bersama.
Kenapa bisa demikian? karena anak cewek jaman sekarang kesadaran akan kesetaraan dan kemandirian diri mereka makin tinggi dibanding jamanku dulu.(baru-baru ini aku di buat tercengang atas cara Dian dalam memecahkan masalah perpajakan karena kesalahan anak buah..ternyata disetujui oleh sang papi,mean “level” dian dah “up” ….jangan ke GR an lah….. ^_^…..)
Jaman memang sudah berubah,kalo kita tidak terus belajar dan berusaha mengejar,maka kita akan terlindas.

Balik ke topik…
Untuk bisa mencari keseimbangan dan sikronisasi dari “ready” dan “enough” kedua belah pihak, diperlukan komunikasi yang dewasa, terbuka,jujur,fair dan konsisten.
Diperlukan give and take masing-masing pihak.

Tapi….
TUHAN Allah berfirman:”Tidak baik,kalau manusia itu seorang diri saja,Aku akan menjadikan penolong baginya,yang sepadan dengan dia.” (Kejadian 2:18)

Jadi……
Bagaimanapun juga….cowok/suami diharapkan sebagai pemimpin,cewek/istri adalah penolong yang sepadan yang akan membawa bahtera rumah tangganya(dan anak-anaknya) ke arah yang benar sesuai dengan cita-cita berlandaskan firmanNYA.

Bagaimana?