Kali ini aku pengen cerita sedikit tentang realita yang tertangkap oleh mata dan hati ku..
Suatu hari aku ke airport menjemput Indra dan Dian pulang dari Surabaya.
Ada sebuah keluarga kecil,bapak ibu dan 3 putra putri balita nya
Anak-anak berlarian kesana kemari dengan riang dan nakal nya anak-anak.
Pada saat pengumuman bahwa pesawat telah mendarat,ketiga anak-anak tersebut serentak menuju pintu ruang penjemputan(karena aku juga sedang menunggu pesawat yang sama)
Anak-anak dengan mata berbinar menanti……mbak-mbak mereka yang baru pulang cuti lebaran….
Begitu mbak nya keluar..mereka berhamburan ke pelukan mbak mereka masing-masin(ada 2 orang).
Mengadu,bercerita dengan bersimbah air mata (tapi mulut mereka tersenyum bahagia = air mata bahagia?)
Si mbak-mbak juga dengan sayang nya memeluk mereka,mendekap mereka,mendengarkan ceritanya dan menghibur mereka.
Si bapak dan ibu..dengan tanpa ekspresi memandang “moment kebahagiaan” tersebut,akupun terpana…!! sampai Indra dan Kiki tiba-tiba nongol didepanku.
TERPANA?
Bukan aku mengecilkan peran dan kerja keras si mbak…
Yang membingungkan ku…dimana ? dan apa ? fungsi si bapak dan ibu yang “mejadikan” ketiga anak tersebut,
sampai demikian kuatnya jalinan emosi antara anak-anak(bukan hanya 1 tapi 3) dengan mbak-mbak mereka.
Aku baru saja baca blog irene(yang lama lemes,nggak muncul-muncul —> soorrryyyyyy renz),bahwa karakter kita di bentuk oleh lingkungan dimana kita tumbuh/lingkungan yang kita pilih setelah kita dewasa.
Ada juga artikel lama yang baru kutemukan yang related dengan masalah ini,klik
Nah…bukan kah karakter anak-anak ini sedikit banyak akan terpengaruh dan di bentuk oleh si mbak-mbak mereka(melihat kuatnya jalinan emosi mereka) bukan oleh kedua orang tua mereka?
Aku juga ada cur hat dengan Dian…langsung to the point sih…
“pakai” si mbak nggak ada salahnya,tapi jangan sampai orang banjar bilang “serah mantah” semuanya kepada si mbak….rugi dong bagi ku yang sudah susah payah menyelesaikan “Parents First Duty”,setor $$$ dan butuh waktu ber jam-jam penerbangan yang melelahkan untuk melepas rindu kepada mereka duluuuu,eee malah cucu-cucu ku yang membesarkan dan mendidik nya adalah si mbak yang nggak ketahuan sekolah dan pendidikannya juga family life style nya(karena sampai saat ini yang kutau kalaupun ada si mbak yang sedikit berpendidikan,ia pasti cari kerjaan yang lebih bagus…istilahnya pabrikan or kantoran,minimal jaga stand di mall)..betul?
Bagaimana nanti pembentukan karakter cucu-cucuku? mundur lagi dongg….
Mudah-mudahan Dian dan “calon” Indra mengerti apa yang aku tangkap dari “pelajaran hidup” diatas.
Kesuksesan butuh pengorbanan (waktu,tenaga,pikiran,dana dll)sebelum kesuksesan itu datang.
Kalau kalian sudah siap berkomitmen membentuk keluarga kalian masing-masing…Stick and stand lah!!!
Nikmati masa bulan madu,masa bulan(yang penuh batu dan kerikil,karena madunya dah habis ^_^…..masa-masa kehamilan…masa-masa mempunyai baby..balita…preteen..teenager…dan pre man/pre woman ( seperti yang kami jalani sekarang) sebelum masa “memanen” dan “berbaring di padang rumput menikmati hangat nya matahari pada musim semi)…hhhhhmmmm….
Yang paling penting minta restu,petunjuk dan bimbingan kepada DIA yang ESA .
Mudah-mudahan…..
Tuhan berkati